JAKARTA - Bandara kini tidak lagi diposisikan semata sebagai titik keberangkatan dan kedatangan pesawat.
Di tengah dinamika industri aviasi dan pemulihan trafik penumpang, pengelola bandara dituntut menghadirkan nilai tambah yang mampu mendorong pertumbuhan pendapatan secara berkelanjutan. PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports membaca peluang tersebut dengan memperkuat bisnis non aeronautika sebagai salah satu sumber pendapatan utama perusahaan.
Melalui berbagai inisiatif komersial, InJourney Airports berupaya mengoptimalkan potensi belanja penumpang di kawasan terminal. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah menghadirkan program loyalitas pelanggan yang mendorong aktivitas konsumsi, sekaligus memperkuat posisi bandara sebagai pusat ekonomi dan gaya hidup.
Program Eat Shop Fly Dorong Aktivitas Belanja Penumpang
Salah satu strategi utama yang dijalankan InJourney Airports dalam meningkatkan pendapatan non aero adalah melalui program loyalitas pelanggan bertajuk Eat Shop Fly. Program ini dirancang untuk mendorong penumpang agar lebih aktif berbelanja di berbagai gerai ritel dan kuliner yang tersedia di kawasan bandara.
Melalui skema tersebut, pelanggan yang melakukan transaksi dengan nilai belanja tertinggi akan memperoleh apresiasi khusus dari pengelola bandara. Direktur Komersial InJourney Airports, Veri Y. Setiady, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya sekadar promosi, tetapi juga menjadi sarana membangun keterikatan antara penumpang, mitra usaha, dan pengelola bandara.
Konsumen dengan nilai belanja tertinggi atau top spender dalam program Eat Shop Fly berkesempatan mendapatkan hadiah utama berupa satu unit BYD M6 dan satu unit BYD Seal. Insentif ini diharapkan mampu meningkatkan minat penumpang untuk memanfaatkan berbagai fasilitas komersial yang tersedia di terminal bandara.
Bandara Diarahkan Menjadi Lifestyle Hub
Lebih jauh, Veri Y. Setiady menegaskan bahwa program Eat Shop Fly dirancang sebagai bagian dari upaya mengubah persepsi masyarakat terhadap bandara. InJourney Airports ingin menghadirkan bandara bukan hanya sebagai tempat transit, melainkan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan gaya hidup atau lifestyle hub.
“Kami ingin setiap interaksi di bandara, mulai dari kuliner hingga belanja, memberikan nilai tambah yang berkesan bagi para traveler. Program Eat Shop Fly merupakan wujud apresiasi kami atas kepercayaan pelanggan dan mitra usaha yang terus mendukung pertumbuhan industri aviasi nasional,” jelas Veri.
Dengan pendekatan tersebut, bandara diharapkan mampu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan non aero secara signifikan. Konsep ini sejalan dengan tren global pengelolaan bandara yang semakin mengandalkan aktivitas komersial sebagai penopang kinerja keuangan.
Ekspansi Bisnis Non Aero di 37 Bandara
InJourney Airports saat ini mengelola total 37 bandara di berbagai wilayah Indonesia. Veri menyampaikan bahwa perusahaan terus mendorong pertumbuhan bisnis non aero di seluruh bandara tersebut dengan menghidupkan aktivitas komersial di terminal serta memperkuat daya saing bandara sebagai pusat kegiatan ekonomi.
Meski tidak merinci angka secara spesifik, Veri menyebutkan bahwa pada tahun 2025, pendapatan dari bisnis non aero menunjukkan pertumbuhan positif dan bahkan melampaui target yang telah ditetapkan perusahaan. Kinerja ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa strategi pengembangan bisnis non aeronautika berada di jalur yang tepat.
Ke depan, InJourney Airports berkomitmen untuk terus meningkatkan kontribusi pendapatan non aero melalui berbagai inovasi layanan, kolaborasi dengan mitra usaha, serta optimalisasi ruang komersial di terminal bandara. Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan bisnis perusahaan di tengah fluktuasi industri penerbangan.
Bandara Ngurah Rai Jadi Penopang Pendapatan Non Aero
Salah satu bandara yang mencatatkan pertumbuhan signifikan pada bisnis non aero adalah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Tingginya aktivitas penumpang, khususnya wisatawan mancanegara, menjadi faktor utama yang mendorong kinerja positif sektor non aeronautika di bandara tersebut.
CEO Regional II InJourney Airports, Wahyudi, menjelaskan bahwa pendapatan non aero Bandara I Gusti Ngurah Rai berhasil mencapai target pada tahun 2025. Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting untuk mendorong kinerja yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.
“Kami usahakan ke depan target yang ditetapkan bisa tercapai dan menjadi pendorong pendapatan non aero,” kata Wahyudi.
Keberhasilan Bandara Ngurah Rai dalam mengembangkan bisnis non aero juga mencerminkan besarnya potensi belanja penumpang di bandara dengan trafik tinggi, terutama yang melayani rute internasional.
Tingginya Trafik Penumpang Perkuat Potensi Komersial
Sebagai informasi, sepanjang 2025 Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai melayani sebanyak 24,12 juta penumpang. Dari jumlah tersebut, sekitar 15,7 juta merupakan penumpang internasional, sementara 8,9 juta lainnya adalah penumpang domestik.
Komposisi penumpang tersebut memberikan peluang besar bagi pengembangan bisnis non aero, mulai dari ritel, kuliner, hingga layanan gaya hidup lainnya. Dengan karakteristik wisatawan yang cenderung memiliki tingkat konsumsi tinggi, bandara menjadi lokasi strategis untuk mendorong transaksi komersial.
Melalui optimalisasi bisnis non aeronautika, InJourney Airports berharap dapat memperkuat struktur pendapatan perusahaan sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih bernilai bagi penumpang. Strategi ini menegaskan transformasi bandara sebagai simpul transportasi yang juga berperan penting dalam menggerakkan roda ekonomi nasional.