JAKARTA - Perubahan identitas perusahaan kerap menjadi penanda penting dalam perjalanan transformasi bisnis sebuah korporasi.
Hal tersebut juga dilakukan oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang memperkenalkan logo baru sebagai simbol arah baru perusahaan dalam memperluas bisnis dan memperkuat posisinya di sektor sumber daya alam.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk beradaptasi dengan perkembangan industri sekaligus memperkuat portofolio usaha di masa depan. Selama ini Bumi Resources dikenal luas sebagai salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia, namun perusahaan kini mulai memperluas cakupan bisnisnya ke berbagai sektor mineral bernilai tinggi.
Peluncuran logo baru tersebut bukan sekadar perubahan tampilan visual perusahaan. Identitas baru itu mencerminkan komitmen manajemen untuk melakukan transformasi bisnis yang lebih luas dan berkelanjutan, sekaligus menandai fase baru dalam perjalanan perusahaan.
Peluncuran Logo Baru sebagai Simbol Transformasi
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) resmi meluncurkan logo baru perusahaan sebagai bagian dari transformasi bisnis menuju perusahaan sumber daya alam yang lebih terdiversifikasi. Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources, Renno Wicaksono, mengatakan peluncuran identitas visual baru tersebut menjadi momen penting dalam perjalanan transformasi perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia.
"Bapak-Ibu sekalian, hari ini adalah momen yang sangat bermakna bagi Bumi Resources. Dalam beberapa tahun terakhir, Bumi Resources telah menapaki suatu perjalanan transformasi yang strategis di mana perusahaan memperluas bisnis melampaui dari batubara thermal yang selama ini telah menjadi bisnis utama kami,” ujar Renno saat konferensi pers.
Menurutnya, perubahan identitas tersebut sekaligus menegaskan arah baru perusahaan yang tengah memperkuat fondasi bisnis jangka panjang melalui diversifikasi sektor usaha.
Ekspansi ke Sektor Mineral dan Hilirisasi
Dalam beberapa tahun terakhir, Bumi Resources mulai memperluas portofolio bisnisnya dengan masuk ke sektor mineral bernilai tinggi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat keberlanjutan bisnis di masa depan.
Menurut Renno, perusahaan juga tengah membangun pondasi bisnis yang lebih kuat untuk jangka panjang melalui penguatan portofolio usaha. Saat ini Bumi Resources mulai memasuki sektor mineral bernilai tinggi seperti emas, tembaga, dan bauksit, serta mengembangkan kapabilitas hilirisasi.
"Dan fondasi ini berupa portofolio yang semakin kokoh dan juga semakin kuat karena saat ini Bumi Resources telah memasuki sektor mineral seperti emas dan juga tembaga, dan juga bauxit, dan juga kapabilitas hilirisasi,” kata Renno.
Dengan langkah tersebut, perusahaan berupaya memperluas sumber pendapatan serta mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.
Logo Baru Cerminkan Arah Bisnis Perusahaan
Chief Corporate Affairs & Sustainability Officer BUMI Christopher Fong mengatakan, perubahan logo tersebut juga mencerminkan transformasi bisnis perusahaan dari penambang batu bara termal menuju perusahaan yang lebih fokus pada mineral dan logam.
“Ini merupakan bagian dari diversifikasi dan transformasi kami dari penambang batu bara termal menjadi perusahaan yang juga bergerak di mineral, logam, dan sumber daya lainnya,” jelas Christopher.
Ia menambahkan, pembaruan identitas visual tersebut juga bertujuan untuk memodernisasi citra perusahaan agar lebih sejalan dengan standar perusahaan internasional.
"Logo baru ini membantu memodernisasi BUMI dan membawa merek perusahaan lebih mendekati standar internasional, sehingga kami tidak hanya dipandang sebagai perusahaan tradisional dari Indonesia,” ujar dia.
Ke depan, perusahaan tetap mempertahankan bisnis batu bara termal, namun secara bertahap akan memperluas portofolio ke sektor logam dan mineral.
Perubahan Kepemilikan Saham oleh UBS
Selain transformasi bisnis, perkembangan lain yang terjadi pada Bumi Resources juga terkait dengan perubahan kepemilikan saham oleh investor global. UBS Group AG melaporkan perubahan kepemilikan sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perwakilan UBS, Dominic Eichrodt dan Ruby Ko, perusahaan menyatakan telah menjual sebagian kepemilikannya pada emiten pertambangan tersebut.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (28/11/2025) UBS menyebutkan jumlah saham BUMI yang dimiliki turun dari 26,38 miliar saham (7,11%) menjadi 25,61 miliar saham (6,90%). Penurunan terjadi setelah UBS melepas 769.454.100 saham pada transaksi terakhir tanggal 20 November 2025, dengan harga Rp 228,994 per saham.
UBS menjelaskan aksi penjualan saham tersebut dilakukan untuk kebutuhan lindung nilai derivatif klien.
Kepemilikan saham UBS di BUMI terdiri dari kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui beberapa entitas dan cabang UBS, termasuk UBS AG London Branch sebagai pemilik manfaat langsung, serta aset-aset yang tercatat atas nama klien Wealth Management melalui cabang UBS di Singapura, Hong Kong, dan Swiss.
Selain itu, MultiConcept Fund Management S.A. dan UBS Fund Management (Switzerland) AG juga tercatat sebagai manajer dana terkait kepemilikan tersebut.
Sebelumnya, UBS Group AG menambah kepemilikan saham BUMI pada pertengahan November 2025.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (23/11/2025), UBS Group AG membeli 2.921.668.200 saham BUMI pada 14 November 2025 dengan harga pembelian Rp 197,72. Jumlah saham yang dibeli itu setara 0,78%. Dengan demikian, nilai pembelian saham BUMI oleh UBS Group AG sekitar Rp 577,67 miliar.