Eagle High Plantations

Eagle High Plantations (BWPT) Siapkan Capex 2026 Sekitar 5 Persen dari Pendapatan 2025

Eagle High Plantations (BWPT) Siapkan Capex 2026 Sekitar 5 Persen dari Pendapatan 2025
Eagle High Plantations (BWPT) Siapkan Capex 2026 Sekitar 5 Persen dari Pendapatan 2025

JAKARTA - Industri kelapa sawit terus bergerak menuju model bisnis yang lebih terintegrasi, tidak hanya mengandalkan produksi bahan mentah tetapi juga memperkuat sektor hilir. 

Strategi ini menjadi penting bagi perusahaan perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus menjaga daya saing di tengah dinamika pasar global.

Salah satu perusahaan yang mulai memperkuat strategi hilirisasi adalah PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Perseroan menyiapkan rencana belanja modal pada tahun 2026 yang difokuskan untuk mendukung pengembangan bisnis hilir, khususnya melalui pembangunan fasilitas pengolahan baru.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas portofolio produk turunan kelapa sawit. Dengan memperkuat lini hilir, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas sumber pendapatan dari produk bernilai tambah.

Alokasi Capex Sekitar 5 Persen dari Pendapatan

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun 2026 guna memperkuat pengembangan bisnis perusahaan.

Corporate Secretary BWPT Rizka Dewi S menyampaikan bahwa anggaran belanja modal tahun ini diperkirakan berada di kisaran sekitar 5 persen dari total pendapatan perusahaan pada tahun 2025.

“Belanja modal pada 2026 kami perkirakan berada di kisaran sekitar 5% dari pendapatan tahun 2025. Fokus utama capex akan diarahkan pada pengembangan kernel crushing plant (KCP) sebagai lini bisnis baru Perseroan,” ujar Rizka.

Jika mengacu pada kinerja perusahaan pada tahun lalu, pendapatan BWPT pada tahun 2025 tercatat mencapai sekitar Rp5,76 triliun. Dengan dasar perhitungan tersebut, estimasi belanja modal perusahaan pada tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp288 miliar.

Anggaran tersebut akan difokuskan pada sejumlah proyek strategis yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan dalam jangka panjang.

Pengembangan Kernel Crushing Plant untuk Diversifikasi Bisnis

Salah satu proyek utama yang akan didanai melalui capex tersebut adalah pembangunan fasilitas kernel crushing plant (KCP). Fasilitas ini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk memperluas portofolio bisnis hilir.

Melalui fasilitas KCP, BWPT dapat mengolah inti sawit menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

“Dengan fasilitas ini, BWPT dapat menghasilkan produk turunan seperti CPKO dan PKM (Palm Kernel Meal), yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus mendukung peningkatan margin usaha,” jelasnya.

Produk CPKO atau crude palm kernel oil merupakan salah satu bahan baku penting dalam berbagai industri, termasuk industri makanan, kosmetik, dan produk perawatan tubuh. Sementara itu, PKM atau palm kernel meal biasanya digunakan sebagai bahan pakan ternak yang memiliki nilai pasar tersendiri.

Dengan memproduksi kedua produk tersebut, perusahaan tidak hanya memperluas sumber pendapatan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan baku dari perkebunan kelapa sawit yang dimiliki.

Langkah diversifikasi ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam industri kelapa sawit yang semakin kompetitif.

Dukungan Energi melalui Biogas Power Plant

Selain pembangunan fasilitas pengolahan inti sawit, sebagian anggaran belanja modal juga akan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur pendukung operasional.

Salah satu proyek yang akan dikembangkan adalah pembangunan biogas power plant yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi operasional, khususnya bagi fasilitas kernel crushing plant yang akan dibangun.

Pemanfaatan energi dari biogas dinilai dapat memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan. Selain membantu menekan biaya energi, penggunaan biogas juga mendukung upaya perusahaan dalam mengelola limbah secara lebih efisien.

Melalui langkah ini, BWPT berupaya mengintegrasikan aspek efisiensi operasional dengan penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan bisnisnya.

Selain itu, perusahaan juga tetap mengalokasikan sebagian investasi untuk memperkuat implementasi aspek environmental, social, and governance (ESG) di tingkat grup.

“Kami tetap menjaga disiplin dalam pengelolaan capex agar setiap investasi memberikan nilai tambah yang optimal,” imbuhnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan komitmen perusahaan untuk memastikan bahwa setiap investasi yang dilakukan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan.

Target Produksi Tetap Tumbuh pada 2026

Meskipun fokus pada penguatan lini bisnis hilir, BWPT tidak mengabaikan kinerja operasional di sektor hulu. Perusahaan tetap menargetkan pertumbuhan produksi pada tahun 2026.

Namun demikian, pada tahun ini perusahaan belum memiliki rencana untuk menambah pabrik kelapa sawit (PKS) baru maupun meningkatkan kapasitas pengolahan yang sudah ada.

Fokus perusahaan saat ini lebih diarahkan pada optimalisasi fasilitas yang telah dimiliki serta pengembangan produk turunan dari kelapa sawit.

Seiring dengan langkah diversifikasi bisnis tersebut, BWPT tetap membidik peningkatan produksi pada sejumlah komoditas utama. Perseroan menargetkan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS), crude palm oil (CPO), serta palm kernel pada kisaran dua digit dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Target tersebut mencerminkan optimisme perusahaan terhadap prospek industri kelapa sawit yang masih memiliki peluang besar di pasar domestik maupun internasional.

Dengan strategi yang menggabungkan peningkatan produksi dan penguatan sektor hilir, BWPT berharap dapat meningkatkan kinerja perusahaan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap industri kelapa sawit nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index