48 Eks Anggota JI di Sumsel Ikuti Pembinaan Densus 88

Rabu, 16 September 2026 | 17:56:32 WIB
Densus 88 Antiteror Polri membina 48 eks anggota Jamaah Islamiyah melalui seminar moderasi beragama di Palembang.

JURNALNESIA.ID — Densus 88 Antiteror Polri Satgas Wilayah Sumatera Selatan membina 48 orang mantan anggota Jamaah Islamiyah melalui seminar moderasi beragama di Palembang, Rabu. Pembinaan menyasar pemahaman keagamaan yang toleran sebagai upaya mencegah paparan radikalisme berulang. Kementerian Agama menilai pendekatan itu harus berjalan berkelanjutan, bukan program sekali selesai.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan Syafitri Irwan menyampaikan apresiasi kepada Densus 88 Antiteror Polri atas inisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pembinaan terhadap mantan anggota kelompok terlarang itu menjadi bagian penting dari upaya merawat kerukunan di tengah masyarakat.

Kegiatan berlangsung di Palembang dan dihadiri sejumlah pihak, termasuk perwakilan Kementerian Agama setempat. Syafitri menegaskan moderasi beragama tidak bisa diselesaikan dalam satu kali pertemuan.

Proses Berkelanjutan, Bukan Agenda Sekali Selesai

Syafitri menilai pembinaan ideologi dan pemahaman keagamaan membutuhkan waktu panjang. Ia menyebut pendekatan yang dilakukan Densus 88 sejalan dengan kebutuhan memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan kelompok yang pernah terpapar paham ekstrem.

"Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Densus 88. Merawat kerukunan dan moderasi beragama ini tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus berkelanjutan dan terus-menerus," tegas Syafitri.

Kementerian Agama, lanjut dia, terus memperkuat moderasi beragama di seluruh tingkatan. Penguatan itu menyasar aparatur sipil negara hingga masyarakat umum, dengan hasil yang tercermin pada Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) nasional yang meningkat dari tahun ke tahun.

Perbedaan sebagai Takdir Bangsa

Dalam paparannya, Syafitri mengingatkan hakikat keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, etnis, geografis, dan latar belakang dipandangnya sebagai sunnatullah yang dirancang bukan untuk saling memusuhi.

"Allah menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk saling membenci atau bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal. Warga negara asing pun sangat salut dengan Indonesia yang terpisah pulau-pulau, suku, dan bahasa, tetapi memiliki akar persatuan yang sangat kuat. Pendiri bangsa kita dahulu berjuang keras merekatkan Indonesia hingga lahirlah Bhinneka Tunggal Ika," ungkapnya.

Ia menyebut kerukunan yang terjaga membuat Indonesia dipandang positif oleh negara lain. Persatuan di tengah keberagaman itu dinilai sebagai modal sosial yang perlu dirawat setiap generasi.

Kritik Boleh, Jangan Merusak Persatuan

Syafitri juga menyinggung pentingnya sikap kritis terhadap perjalanan bangsa. Menurutnya, kritik dan koreksi merupakan hal positif untuk kemajuan negara selama disampaikan secara konstruktif.

"Kritik dan protestasi itu hal yang baik untuk kemajuan suatu negara. Negara tidak akan maju jika tidak dikritis. Namun, jangan sampai kritik dan protes yang kita lakukan itu justru merusak bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Yang dinilai di hadapan Allah bukanlah perbedaan, melainkan tingkat ketakwaan dan kesalehan kita," jelasnya.

Ia menegaskan kesadaran menjaga kerukunan dan moderasi beragama diperuntukkan bagi seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Tujuannya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pembinaan terhadap 48 mantan anggota Jamaah Islamiyah ini menambah daftar program deradikalisasi yang menyasar aspek pemahaman keagamaan, bukan hanya pendekatan keamanan. Kementerian Agama berharap pola serupa diperluas agar kelompok rentan tidak kembali terpapar paham ekstrem.

Tags

Terkini